Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

kalender
UPBS
web mail
Sinar Tani
satulayanan
SERBA SERBI

Buku Inovasi



  

 

Ex Kepala 1985-2011

        

On-LINE

Terdapat 6 Tamu online
Sosialisasi Penangkaran dan Efisiensi Teknologi Pemupukan Padi Sawah PDF Cetak E-mail
News - Info Aktual
Oleh Administrator   
Minggu, 29 Juli 2012 13:51
Sosialisasi Penangkaran dan Efisiensi Teknologi Pemupukan Padi, telah diselenggarakan di Balai Kelurahan Kemumu, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara pada hari selasa, tanggal 17 Juli 2012.

Sosialisasi bertujuan untuk :
  1. menginformasikan hasil kegiatan penangkaran padi di Kelompok Penangkar Mandiri – Kemumu pada Musim Tanam (MT) I tahun 2012 (Januari s/d April 2012),
  2. menyampaikan rencana kegiatan penangkaran benih padi di Kelurahan Kemumu pada MT. II (Juli s/d Oktober 2012), dan
  3. mendiseminasikan teknologi pemupukan spesifik lokasi padi sawah di Kemumu.
Sosialisasi dapat terselenggara dengan baik karena adanya kerjasama dan dukungan khususnya dari Kelompok Penangkar Padi Mandiri.

Salah satu fungsi BPTP Bengkulu adalah mendiseminasikan teknologi pertanian khususnya yang telah dihasilkan oleh Puslit/Balai Besar/Balit lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian. Oleh karena itu dibutuhkan ujicoba paket/komponen teknologi di lapangan agar spesifik lokasi sehingga dapat diadopsi oleh petani untuk meningkatkan pendapatan dan efisiensi usahatani yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Varietas unggul baru (VUB) padi adalah komponen teknologi yang diunggulkan oleh Badan Litbang Pertanian yang memerlukan percepatan proses diseminasi. Melalui kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS)/Perbenihan, BPTP Bengkulu telah melakukan diseminasi VUB padi dengan cara penangkaran di lahan petani. Salah satu lokasi penangkaran tersebut terletak di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara. Pada MT. I tahun 2012 telah ditangkarkan 3 varietas padi (benih pokok) yaitu Inpari 1, Inpari 13, dan Inpago 6 pada lahan seluas 3,7 ha melibatkan 6 orang petani. Hasilnya cukup memuaskan sehingga sebanyak 5 ton benih sebar Inpari 1 dan Inpari 13 telah diopkup oleh PT. Pertani UPB Sukasari Bengkulu Utara.

Kelurahan Kemumu merupakan salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Bengkulu Utara yang sangat potensial untuk pengembangan penangkar benih padi.  Kelurahan Kemumu memiliki luas 815 ha. Peruntukan lahan didominasi oleh lahan sawah 368 ha (45,16%), didukung jaringan irigasi yang memadai. Irigasi teknis di Kemumu  mampu mengairi 315 ha lahan sawah, sisanya seluas 53 ha sawah diairi saluran irigasi setengah teknis. Budaya masyarakat yang sebagian besar berasal dari etnis Jawa yang telah turun-temurun tinggal di Bengkulu sejak masa kolonial Belanda juga mendukung budaya padi.

Kelurahan Kemumu memiliki 3 buah bendungan yang mensuplai air pada lahan sawah irigasi. Sumber air irigasi berasal dari Air Nokan, Air Kemumu, dan Air Telatang. Selain itu terdapat 7 unit penggilingan padi, dan 1 KUD yang menyiapkan sarana produksi pertanian. Akses ke Kemumu cukup baik, karena berada pada jalur lintasan Lubuk Durian – Argamakmur.

Secara umum adopsi benih padi unggul berlabel di Kemumu saat ini sudah cukup baik. Kondisi ini didorong oleh faktor lingkungan di Kabupaten Bengkulu Utara yang cukup mendukung. PT. Pertani Unit Prosesing Benih (UPB) Sukasari di Kecamatan Argamakmur yang telah berdiri sejak tahun 1983, berjarak hanya beberapa kilometer dari Kemumu yang ikut membina penangkar benih yang ada di Kemumu melalui kerjasama produksi benih. Disamping itu juga ada Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi dari Pemerintah sejak tahun 2007. Beberapa jenis VUB telah masuk ke Kemumu seperti Inpari 1, Inpari 13, dan Inpago 6. VUB yang paling berkembang dan disukai petani adalah Inpari 1.

Permasalahan budidaya padi di Kemumu adalah peningkatan produktivitas padi yang cenderung melambat sehingga mengakibatkan petani melakukan pemupukan secara berlebihan untuk mengejar peningkatan produksi. Hasil panen padi rata-rata petani di Kemumu adalah sekitar 4,3 ton GKP/ha atau setara dengan 3,4 ton GKG/ha per musim tanam. Di sisi lain, pemborosan penggunaan pupuk yang dilakukan petani di Kemumu antara Rp. 300.000 – Rp. 400.000 per hektar per musim tanam bila dibandingkan dengan rekomendasi pemupukan sesuai dengan hasil analisa tanah. Hal ini disebabkan karena pengetahuan mereka tentang teknologi pemupukan yang belum memadai.
Melihat potensi dan permasalahan di atas, maka kegiatan ”Sosialisasi Penangkaran dan Efisiensi Teknologi Pemupukan Padi” sangat relevan dilaksanakan di Kemumu.

Keluaran
  1. Petani dan petugas lapangan dari instansi terkait mengetahui hasil kegiatan UPBS/Perbenihan di Kelurahan Kemumu pada MT. I dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada MT. II.
  2. Petani dan petugas lapangan mengetahui efisiensi pemupukan padi sawah spesifik lokasi di Kemumu.

Sosialisasi diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri atas 36 orang petani padi, 6 orang petugas dari instansi terkait, dan 8 orang peneliti/penyuluh/ staf BPTP Bengkulu.
 
Materi dan Metode Pelaksanaan Sosialisasi
Dalam Sosialisasi Penangkaran dan Efisiensi Teknologi Pemupukan Padi Sawah disampaikan 3 materi yaitu:
  1. Program pengembangan perbenihan untuk meningkatkan Produksi Padi di Kabupaten Bengkulu Utara,
  2. Teknologi Pemupukan Padi Sawah,
  3. Pengalaman pengujian pupuk dalam penangkaran padi dan praktek penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Sosialisasi dilaksanakan dengan metode presentasi, diskusi, dan praktek.

HASIL SOSIALISASI


A.     Pengambilan Data Penerapan Teknologi Budidaya Padi

Pengambilan data penerapan teknologi budidaya padi dilakukan pada saat pendaftaran peserta. Peserta dipandu Panitia Penyelenggara untuk mengisi biodata dan penerapan teknologi dalam budidaya padi, khususnya penggunaan varietas unggul dan penerapan teknologi pemupukan.

Berdasarkan hasil isian biodata diketahui bahwa peserta sosialisasi berasal dari 10 kelompok tani di Kelurahan Kemumu yaitu Kelompok Tani Karya Baru, Karya Baru I, Karya Baru II, Karya Baru III, Karya Baru IV, Karya Baru V, Penangkar Mandiri, Semangat Bersama, Semangat Karya, dan Tirta Agung.

Teknologi budidaya padi yang diterapkan oleh petani di Kelurahan Kemumu sudah cukup baik. Pada musim tanam lalu, petani umumnya menggunakan benih unggul varietas Mekongga, kelas benih sebar, berasal dari Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Petani umumnya telah menerapkan sistem tanam legowo (91,67%). Efisiensi penggunaan benih sudah dilakukan, 86,36% petani telah menanam bibit 2-3 batang per lubang tanam. Kebanyakan petani (90,48%) telah menanam bibit muda yaitu <21 hari setelah semai.

Penggunaan pupuk oleh petani belum tepat. Dari data yang diambil dari 19 orang petani kooperator sebelum kegiatan sosialisasi, diketahui bahwa dosis pupuk padi yang diaplikasikan petani di Kemumu adalah 258,7 kg Urea + 269,4 kg SP-36 + 53 kg KCl per hektar per musim tanam. Dosis pupuk yang dianjurkan oleh BPTP Bengkulu di wilayah Kemumu berdasarkan hasil analisis tanah adalah 250 kg Urea + 100 kg SP-36 + 50 kg KCl per hektar. Jika dikonversi ke dalam hitungan ekonomi, total pemborosan pupuk untuk tanaman padi setiap hektar sekitar     Rp.400.000.

Selain dosis pupuk yang digunakan masih berlebihan, waktu pemupukan petani juga belum tepat. Pemupukan dianjurkan dilakukan sebanyak 3 kali selama musim tanam yaitu: (1) pemupukan pertama pada umur pada 7-14 HST dengan dosis 83,3 kg urea + 100 kg SP-36 + 25 kg KCl/ha, (2) pemupukan kedua pada umur 21-30 HST dengan dosis 83,3 kg urea + 25 kg KCl, dan (3) pemupukan ketiga pada umur 35-45 HST dengan dosis 83,3 kg urea. Kebanyakan petani peserta sosialisasi (79,17%) telah memupuk sebanyak 3 kali, 16,67% petani masih memupuk sebanyak 1 kali, dan hanya 4,17% petani yang telah memupuk sebanyak 3 kali.

Preferensi petani didominasi oleh pilihan terhadap benih yang memiliki produktivitas tinggi (80,95%). Selanjutnya petani memilih benih berdasarkan rasa nasi pulen dan ketahanan terhadap hama penyakit (66,67%). Preferensi petani terhadap benih bermutu juga dominan ditentukan oleh varietas yang memiliki anakan banyak dan gabah bernas (52,38%). Kelima alasan di atas dipilih oleh lebih 50% dari 21 orang petani responden yang mengikuti sosialisasi.

Lahan merupakan modal utama petani. Peningkatan produksi melalui penerapan teknologi maupun efisiensi penggunaan input dapat meningkatkan pendapatan petani. Demikian Lurah Kemumu (Budi Harjo, SH) menyampaikan dalam sambutannya. Ditambahkan bahwa lahan petani tidak akan meningkat, bahkan dapat berkurang, di sisi lain kebutuhan keluarga terus meningkat. Oleh karena itu pengelolaan lahan dengan baik akan membantu kehidupan petani.

Sambutan Kepala BPTP Bengkulu

Sambutan Kepala BPTP Bengkulu diwakili oleh Penanggung Jawab Kegiatan UPBS/Perbenihan BPTP Bengkulu (Andi Ishak, A.Pi, M.Si). Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa kegiatan sosialisasi diselenggarkan untuk menginformasikan kepada petani padi di Kemumu dan petugas lapang hasil kegiatan BPTP Bengkulu pada MT. I (Januari s/d April 2012) dan rencana kegiatan pada MT. II (Juli s/d Oktober 2012).

Pada MT. I telah dilakukan perbanyakan VUB Inpari 1 dan Inpari 13 seluas  + 3,7 ha. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kedua VUB tersebut cocok dikembangkan di Kelurahan Kemumu. Hasil produksi riil varietas Inpari 1 di lahan Bapak Taslim mencapai + 6 ton GKP dengan efisiensi pemupukan Rp. 285.000 per hektar per musim tanam. Hasil produksi riil tersebut bila dibandingkan dengan produksi yang biasa dicapai oleh petani, sudah cukup tinggi. Meskipun pada saat perbanyakan benih, padi terserang tikus dengan intensitas serangan 10-20%. Benih yang dihasilkan telah diopkup oleh PT. Pertani UPB Sukasari sebanyak 5 ton, masing-masing varietas 2,5 ton.

Pada MT. II, akan dilaksanakan  produksi benih 5 VUB yaitu Inpari 14, Inpari 15, Inpari 20, Inpara 1, dan Inpara 3 pada lahan seluas 10 hektar yang melibatkan 19 orang petani kooperator. Diharapkan nantinya bila ada varietas yang cocok dari kelima varietas yang digunakan, maka dapat dikembangkan khususnya di Kemumu, dan umumnya di lahan sawah irigasi di Kabupaten Bengkulu Utara.

Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk menyebarluaskan teknologi budidaya padi terutama penggunaan VUB dan efisiensi penggunaan pupuk sebelum petani di Kemumu menanam padi pada MT. II pada bulan Agustus 2012. Dalam kegiatan sosialisasi juga disampaikan kepada petani cara penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan dosis pupuk spesifik lokasi.

Pembukaan Sosialisasi dan Penyampaian Materi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara

Pembukaan kegiatan sosialisasi dilakukan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan (Suharto Handayani, SP) mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara. Dalam sambutannya disampaikan bahwa Pemerintah telah membantu peningkatan produksi padi dan swasembada beras melalui Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Beberapa hal yang telah dilakukan adalah Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) pola SLPTT dan Laboratorium Lapang (LL), perluasan areal sawah melalui pencetakan sawah, perbaikan saluran irigasi, dan pelarangan alih fungsi lahan.

Terkait dengan penggunaan VUB, peran petani penangkar sangat strategis karena setidaknya dapat menjadi sumber benih bagi petani di sekitarnya. Namun benih unggul bukanlah satu-satunya hal yang harus diperhatikan petani dalam budidaya padi. Pengolahan tanah yang baik, pemupukan sesuai dosis anjuran, pengaturan pengairan, sampai dengan panen dan pascapanen merupakan teknologi yang mempengaruhi hasil produksi padi.
Salah satu permasalahan yang mengancam peningkaan produksi padi di Kabupaten Bengkulu Utara yaitu alih fungsi lahan sawah menjadi tanaman kelapa sawit. Petani melakukan alih fungsi karena tidak mendapatkan air untuk lahan sawah mereka karena kerusakan saluran irigasi. Oleh karena itu bagi petani di Kemumu yang ingin memperbaiki saluran irigasi, dapat mengirimkan surat dari kelompok tani secara resmi ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara dengan diketahui oleh petugas lapangan dan aparat desa setempat. Berdasarkan surat tersebut, akan diturunkan tim survei untuk menilai volume perbaikan saluran irigasi.

Penyampaian Materi
1.    Teknologi Budidaya Padi

Materi Teknologi Budidaya Padi disampaikan oleh Wahyu Wibawa, MP, Ph.D. dan Yahumri, SP. Pentingnya penerapan teknologi yang baik dalam budidaya padi adalah agar petani mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin. Penerapan teknologi mengikuti konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Konsep ini dilakukan dengan pengelolaan lahan, air,  tanaman dan organisme  pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan. Komponen teknologi PTT terdiri atas 12 komponen yaitu 6 komponen teknologi dasar dan 6 komponen teknologi pilihan. Komponen teknologi dasar yaitu varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, pengaturan populasi tanaman yang optimum, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, pengendalian OPT dengan pendekatan PHT, dan pemberian bahan organik. Sedangkan komponen teknologi pilihan yaitu pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam, penanaman bibit muda (<21 hari), tanam bibit 1-3 batang per rumpun, pengairan yang efektif dan efisien, penyiangan dengan landak, gasrok atau secara kimiawi dengan herbisida, dan panen tepat waktu serta gabah segera dirontok.Secara umum, petani di Bengkulu baru menerapkan 3 komponen teknologi dengan hasil rata-rata sekitar 4 ton GKG. Hasil ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata nasional yaitu sekitar 5 ton GKG.

Lambatnya adopsi teknologi dalam budidaya padi di Bengkulu disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah:
  1. Rendahnya adopsi varietas unggul karena varietas yang dibutuhkan sering tidak tersedia dan jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan petani. Selain  itu, petani belum terbiasa membeli benih padi. Untuk kebutuhan mereka, petani sering menukar benih antar lapangan dengan petani lainnya, atau menyisihkan dari hasil pertanaman mereka pada musim tanam sebelumnya.
  2. Pupuk sering tidak tersedia menurut jenis dan jumlah pada saat dibutuhkan. Kemampuan petani membeli pupuk juga masih rendah, sehingga pemupukan tidak optimal.

Pengalaman Pengujian Pupuk dalam Penangkaran Padi dan Praktek Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)

Pengalaman pengujian pupuk disampaikan oleh Bapak Taslim (Ketua Kelompok Penangkar Mandiri, Kelurahan Kemumu) berdasarkan hasil demplot di Kelurahan Kemumu seluas 3,7 ha yang melibatkan 6 orang petani pada MT. I. Varietas yang ditanam adalah Inpari 1, Inpari 13, dan Inpago 6. Paket teknologi sesuai rekomendasi dilakukan pada lahan  Bapak Taslim seluas 0,37 ha merupakan komponen perbaikan teknologi yaitu: penggunaan caplak roda sebagai alat bantu tanam, penanaman dengan sistem tanam legowo, penggunaan bibit muda <21 HSS dengan 2-3 rumpun per lubang tanam, pemupukan sesuai rekomendasi berdasarkan analisis tanah (Urea 250 kg + SP-36 100 kg + KCl 50 kg/ha). Pada lahan 5 petani kooperator lainnya hanya diintroduksikan VUB Inpari 13. Hal ini disebabkan karena pada saat itu petani belum yakin dengan penggunaan pupuk sesuai dengan  rekomendasi.
Pertanaman Bapak Taslim menghasilkan + 6 ton/ha GKP, meskipun ada serangan hama tikus sekitar 10-20% dari pertanaman. Hasil yang diperoleh Bapak Taslim tersebut sama dengan hasil maksimal yang pernah dialami pada tahun-tahun sebelumnya dengan efisiensi penggunaan pupuk sekitar Rp. 285.000 per hektar.
Pupuk diberikan dengan dosis 100 kg urea + 30 kg SP-36 + 20 kg KCl pada lahan seluas 0,37 ha sebanyak 3 kali yaitu: (1) pemupukan pertama pada umur pada 10 HST dengan dosis 33 kg urea + 30 kg SP-36 + 10 kg KCl, (2) pemupukan kedua pada umur 22 HST dengan dosis 33 kg urea + 10 kg KCl, dan (3) pemupukan ketiga pada umur 40 HST dengan dosis 34 kg urea.


 
LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com