JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Agenda Acara

Bioindustri

Inovasi teknologi pengolahan kopi petik merah harus dibarengi dengan peningkatan produksi. Untuk itu penerapan teknologi budidaya yang tepat melalui penyambungan tanaman kopi dengan klon unggul perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi.

Melalui kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Tanaman Ternak, pada hari Selasa (25/6/2019) BPTP Balitbangtan Bengkulu melaksanakan Bimbingan Teknis penyambungan kopi pada hari Selasa, 25 Juni 2019 kepada petugas penyuluh dan petani kopi sebanyak 20 orang di Desa Tanjung Beringin Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong.

Melalui kegiatan ini, BPTP Balitbangtan Bengkulu berupaya mempercepat adopsi teknologi budidaya kopi karena berdasarkan hasil survey, 50% petani melakukan penyambungan kopi dengan entres dari klon asalan. Tak hanya itu, BPTP Bengkulu juga membuat demplot Teknologi penyambungan kopi pada tanaman kopi milik Kelompok Tani Paksi Jaya Kec. Curup Utara dan telah membagikan 600 entres klon kopi robusta (Sintaro 1, 2, 3 dan Sehasence) kepada petani. Entres klon unggul tersebut berasal dari Poktan Perkasa Desa IV Suko Menanti Kec. Sindang Dataran Kab. Rejang Lebong.

Melalui Bimtek ini, seluruh petani telah mampu memilih batang bawah yang tepat, namun dari segi kerapian dan kecepatan penyambungan masih belum baik, karena petani belum pernah melakukan penyambungan kopi. Kerapian dilihat dari segi pengikatan tali yang kurang sempurna, cara menempel entres yang belum pas, dan kecepatan dalam menyambungkan entres ke batang bawah masih perlu dipercepat agar entres tidak kering sewaktu penyambungan.

Write comment (0 Comments)

Baru-baru ini (Rabu, 20 Maret 2019) BPTP Bengkulu melaksanakan pertemuan dalam rangka Inisiasi Korporasi Model Bioindustri Berbasis Integrasi Padi-Sapi di Kabupaten Seluma. 

Inisiasi dilakukan dengan mendampingi pembentukan koperasi pada Gapoktan Rimbo Jaya di Kelurahan Rimbo Kedui Kabupaten Seluma yang merupakan gapoktan kooperator kegiatan ini.

Kagiatan pembentukan kelembagaan koperasi dihadiri oleh Penyuluh Pertanian Lapang, Penyuluh Pertanian Kecamatan dan Kordinator Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Seluma.

Turut hadir dalam acara ini yakni Kasie Bidang Koperasi dan Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Seluma. Selain itu, sebanyak 25 orang calon anggota Koperasi juga ikut berpartisipasi pada pertemuan ini.

Rangkaian acara Inisiasi Korporasi diawali dengan penyampaian kilas balik kegiatan Bioindustri Berbasis Integrasi Padi-Sapi dengan produk utama beras aromatik. Penyampaian kilas balik ini juga menekankan pentingnya pembentukan koperasi sebagai badan usaha yang berbadan hukum. Selanjutnya untuk meyakinkan calon anggota koperasi, PPKL memberikan penyuluhan dan bimbingan dalam pembentukan koperasi yang berbadan hukum. Setelah koperasi terbentuk, akan dilakukan pendampingan secara berkelanjutan baik oleh BPTP Bengkulu maupun Disperindagkop Kabupaten Seluma agar koperasi menjadi produktif dan sehat.

Pertemuan ini telah berhasil menginisiasi terbentuknya Koperasi pada Gapoktan Rimbo Jaya dengan nama KOPERASI RIMBO MANDIRI.

Write comment (0 Comments)

Tahun 2019, kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri berbasis Integrasi Padi-Sapi di Kabupaten Seluma telah memasuki tahun ke-5.

Pada tahun ke-5 ini Model yang telah terbentuk selama ini akan semakin dimantapkan dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Pada hari Selasa (12/03/2019) Tim BPTP Balitbangtan Bengkulu telah melakukan koordinasi dengan instansi terkait yaitu Dinas Pertanian Kabupaten Seluma dan Dinas Perindagkop Kab. Seluma.

Menindaklanjuti kesepakatan hasil FGD yang telah dilakukan pada bulan Desember 2018 di Dinas Pertanian Kab. Seluma, maka perlu dilakukan pembenahan baik kualitas produk Bioindustri yang dihasilkan maupun kelembagaan yang mengelolanya.

Untuk pemasaran produk unggulan bioindutri padi-sapi ke pasar modern masih terkendala karena belum memiliki Izin Edar produk, perlu dibentuk kelembagaan berbadan hukum (KOPERASI) agar dapat mengurus Ijin Edar Produk.

Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perindagkop Kab.Seluma. dengan Kabid Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Agus D.) dan Kasie Koperasi dinas perindagkop, usaha kecil dan menengah (Syafrie, SE) Tindaklanjut hasil FGD Desember 2018 lalu bahwa Dinas Perindagkop akan m5embantu mendampingi terbentuknya kelembagaan berbadan hukum yaitu Koperasi dan Penerbitan Izin Edar Produk untuk kegiatan Bioindustri padi-sapi di Rimbo Kedui kabupaten Seluma. Dinas Perindagkop Seluma siap mendampingi teknis pelaksanaan pembentukan Koperasi melalui Petugas Penyuluh Koperasi Lapang (PPKL) Dinas Perindagkop Kab. Seluma.

Akhir kunjungan lapang, Tim juga berkoordinasi dengan Ketua Kelompok Tani Harapan Maju (Mispan) dan Poktan Marga Suko (Bohirin) mengenai persiapan pelaksanaan pembentukan Koperasi. Tindak lanjut dari lapang ini segera akan dilakukan sosialisasi pembentukan Koperasi dengan didampingi oleh PPKL Dinas Perindagkop.

Write comment (0 Comments)

Satu lagi kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri yang dilaksanakan oleh BPTP Balitbangtan Bengkulu berlokasi di Kabupaten Rejang Lebong, yaitu Model Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman-Ternak. Komoditas utama model sistem pertanian ini adalah Kopi dan Sapi. 

Tahun 2019 ini merupakan tahun ke-5 dan ditujukan untuk memantapkan inovasi pakan, inovasi kompos dan mendorong penerapan teknologi petik merah melalui pasca panen dan pemasaran kopi petik merah. Inovasi teknologi juga harus didukung dengan inovasi kelembagaan dengan menghubungkan simpul-simpul agribisnis dalam sistem produksi kopi petik merah, kompos dan pakan untuk menunjang kegiatan Bioindustri yang berkelanjutan. 

Pada hari Selasa (19/3/2019) Tim turun lapang untuk melakukan persiapan produksi pakan sapi dan persiapan panen kopi petik merah. Kegiatan diawali dengan memantapkan formulasi pakan dan memberikan latihan pembuatan pakan dengan kandungan protein kasar berkisar 16% dengan menggunakan bahan pakan lokal (solid, dedak padi, kulit kopi, tepung ikan, garam, kapur tetes gula, dan aktivator).

Pakan tersebut akan dipasarkan ke peternak sapi perah di kecamatan lainnya. Selanjutnya, dilakukan juga prosesing kompos dengan peralatan yang sudah tersedia namun belum termanfaatkan. Fasilitas ini merupakan bantuan dari Bank Indonesia berupa Mixer Horizontal, mesin penepung, mesin chopper, mesin pengolah pupuk organik. Mantap.

Selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Poktan Paksi Jaya Desa Tanjung Beringin Kec. Curup Utara, untuk persiapan produksi kopi petik merah dan berlanjut ke kelompok peternak sapi perah Sepakat di Desa Mojorejo Kec. Selupu Rejang untuk sosialisasi pakan dan pemanfaatan limbah yang masih terbuang.

 

Write comment (0 Comments)

Model sistem pertanian bioindustri berbasis integrasi tanaman kopi – ternak sapi merupakan sistem pertanian terintegrasi yang menghasilkan produk utama kopi dengan didukung produk sampingan hasil pengolahan limbah ternak sapi di antaranya kompos, biourin, biopestisida dan kulit kopi terfermentasi untuk pakan, sehingga tidak ada biomasa yang terbuang (Zero Waste) untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Arti penting bioindustri adalah sebagai penentu daya saing bagi peningkatan nilai tambah dan pendapatan petani.

Prinsip pertanian bioindustri merupakan sistem pertanian yang mengelola dan memanfaatkan secara optimal seluruh sumberdaya hayati pada suatu kawasan sesuai dengan potensi spesifik lokasi. Prinsip yang digunakan adalah 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), mengurangi timbunan sampah/limbah, memanfaatkan kembali limbah yang tidak berguna lagi, dan mendaur ulang limbah menjadi barang yang bernilai ekonomi. Dalam sistem pertanian tersebut, seluruh komponen harus berintegrasi untuk meningkatkan efisisensi input sistem pertanian sehingga menjadi usaha yang lebih efisien menguntungkan meningkatkan pendapatan petani dan peternak.

Indikator umum keberhasilan kegiatan bioindustri adalah menghasilkan keuntungan secara finansial kepada pelaku kegiatan, menghasilkan manfaat ekonomi bagi lingkungan dan terjadi keseimbangan biomassa, sedangkan indikator keberhasilan spesifik seperti keterlibatan petani, menghasilkan produk sesuai kebutuhan konsumen, menghasilkan nilai tambah, prediksi kemandirian, dan menunjukkan keunggulan kompetitif.

Pada tahun 2019, kegiatan Model sistem pertanian bioindustri tanaman kopi dan ternak sapi yang berlokasi di Desa Air Meles dan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu sudah memasuki tahun ke-5 dan sudah mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi pertanian kepada kelompok tani koperator, antara lain teknologi peremajaan tanaman kopi dengan klon unggul, panen kopi petik merah, teknologi pengolahan kopi bubuk petik merah, dan teknologi pengolahan limbah kulit kopi dan ternak sapi sebagai hasil sampingan.

Teknologi peremajaan tanaman kopi dilakukan dengan sistem tag ent (sambung samping) menggunakan entres unggul Sintaro-1, Sintaro-2, dan sehasen. Penerapan inovasi tersebut yang disertai pemeliharaan anjuran dengan pemupukan menggunakan kompos dapat meningkatkan produksi kopi sebesar 134 % dari 700 Kg/Ha menjadi 1.696,5 Kg/Ha/Tahun.

Kopi bubuk petik merah BioGading merupakan produk utama kegiatan Bioindustri Tanaman-Ternak. Kopi yang dihasilkan melalui penerapan teknologi pengolahan kopi secara basah tersebut memiliki citarasa yang lebih baik memenuhi syarat mutu I menurut SNI 01-3542-2004, aroma khas kopi bubuk yang harum, warna normal (coklat tua), kadar air sebesar 2,15%, dan kadar sari kopi sebesar 33,58%.

Produk sampingan yang dihasilkan melalui kegiatan Bioindustri Tanaman-Ternak ini antara lain kompos, biourin dan pakan ternak dari hasil fermentasi kulit kopi. Pengolahan kompos, biourin dan produk pakan ternak menjadi tambahan produk petani dari usahatani kopi dan ternak sapi yang dapat meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan pendapatan petani. Kompos yang dibuat dari kulit kopi dan faeces sapi menjadi produk sampingan yang paling diminati oleh petani pengguna di sekitar lokasi kegiatan. Kompos tersebut telah diaplikasikan pada tanaman kopi, tanaman cabai, tomat dan sayuran lainnya. Saat ini, produksi kompos rata-rata per bulan mencapai 5-6 ton dengan harga jual mencapai Rp 3 juta. Melalui pengolahan kompos tersebut, petani dapat meraup tambahan pendapatan sebesar Rp 2.250.000/bulan. 

Tindak lanjut yang harus dilakukan pada tahun 2019 ini adalah tata kelola alur kelembagaan agar sistem pertanian bioindustri ini dapat berlanjut secara kontinyu dan bermanfaat meningkatkan pendapatan, antara lain tata kelola produksi kopi petik merah menjadi kopi biji berkualitas (gren bean), kelembagaan pengolahan limbah ternak menjadi kompos dan biourin, dan kelembagaan pengolahan limbah kulit kopi untuk pakan ternak dan kompos.

Write comment (0 Comments)