JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Infotek Peternakan

PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT (SOLID) UNTUK PAKAN SAPI POTONG

Oleh: Zul Efendi NPM E2A019033

Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam (PSDA) Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

Solid adalah hasil samping industri pengolahan minyak mentah kelapa sawit yang konsistensinya lunak, berwarna coklat kegelapan, dalam kondisi udara terbuka mudah menjadi tengik dan tumbuh jamur. Jamur akan tumbuh dalam dua hingga tiga hari bila solid dibiarkan dalam udara terbuka, namun jamur ini tumbuh hanya dibagian permukaan luar dan tidak beracun. Solid ini bisa menjadi alternatif pakan tambahan bagi ternak sapi yang murah, mengingat solid tersebut diproduksi secara melimpah, berkesinambungan, dapat digunakan bagi sapi, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia  dan harga murah. Solid memiliki kandungan PK 12-14% dan dapat ditingkatkan menjadi 24,5% melalui teknologi fermentasi kapang Aspergillus niger (Sinurat, 2008). Solid dalam bentuk segar sebanyak 10 kg/ekor/hari dapat diberikan sebagai pakan sapi peranakan ongol (PO) dewasa, tanpa menimbulkan gangguan kesehatan pada sapi (Utomo & Widjaja, 2004).

Selanjutnya Klik Link Berikut

Write comment (0 Comments)

Ketersediaan Hijauan Makanan Ternak (HMT) yang berkualitas, berkesinambungan, mudah dan murah adalah harapan setiap peternak, baik peternak sapi, kerbau, kambing maupun domba. Salah satu HMT tersebut dalah Indigofera.

Apa saja keunggulan Indigofera?

HMT Indigofera sp pada umur 12 bulan dapat mencapai tinggi 2 meter dengan diameter batang 18-20 cm. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang kurang subur dan tahan terhadap musim kemarau yang panjang. Rata-rata produksi 697,75 g daun/pohon (36,43 %), 1627,25 g batang/pohon (63,57 %), produksi segar 52 ton/Ha. Tanaman Indigofera sp seluas 1 ha mampu mencukupi kebutuhan pakan 10 ekor sapi. HMT ini mengandung protein kasar 27,9%, serat kasar 15,25%, kalsium 0,22%, dan fosfor 0,18%.

Sebagian besar SobaTani pasti sudah tau... sistem perbanyakan tanaman indigofera dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan dengan menggunakan setek pada tanaman yang telah berumur 2-3 tahun dengan panjang setek 30- 45 cm. Sebelum setek ditanam, sebaiknya setek diolesi dengan cairan zat perangsang pertumbuhan akar misalnya rotone F.

Perbanyakan generatif yaitu perbanyakan dari biji. Tahapan perbanyakan generatif meliputi; (1) Perendaman biji; perendaman biji selama 24 jam dengan tujuan untuk memisahkan benih yang bernas dengan benih yang hampa, kemudian benih yang mengendap ditiriskan selama 10 menit. (2) Penyiapan media; siapkan media tanah bercampur pasir yang telah digemburkan, (3) Penyemaian; biji ditaburkan secara merata pada permukaan tanah dan ditutup kembali dengan tanah gembur setebal ± 2-5 cm. (4) Pemeliharaan semaian; lakukan penyiraman satu kali sehari, setelah 15-20 hari benih mulai tumbuh dengan ketinggian ± 15-20 cm (4) Semaian dipindahkan ke polybag berukuran 10 x 15 cm, masukkan benih ke dalam polybag kemudian tutup kembali dengan menggunakan tanah, (5) Tanam; setelah ketinggian mencapai 25-30 cm atau payung daun sudah mencapai empat tingkat (akar belum menembus polybag) tanaman dipindahkan ke areal kebun HMT yang telah dipersiapkan, lakukan penyiraman 1 kali sehari. (6) Jarak tanam; jarak tanam 1 x 1 meter, (7) Pemupukan; satu bulan setelah tanam dilakukan pemupukan susulan umur 3 bulan setelah tanam. (8) Panen; tanaman Indigofera dapat dipanen saat berumur 6-8 bulan dengan tinggi pemotongan 1 meter di atas permukaan tanah selanjutnya dapat di panen kembali dengan interval waktu 2 bulan.

Melihat potensi HMT ini, BPTP Balitbangtan Bengkulu melalui kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) beberapa waktu lalu (30/10/2018) telah mendistribusikan benih biji Indigofera untuk penanaman seluas 2 ha, pupuk Urea, TSP, dan KCl kepada Kelompok Tani Barokah Tani di Desa Bandung Jaya Kecamatan Kabawetan Kabupaten kepahiang. Bersamaan dengan distribusi tersebut, Tim UPSUS SIWAB juga memberikan bimbingan teknik budidaya HMT Indigofera kepada 18 orang peserta yang terdiri dari kelompok tani, tokoh masyarakat serta tenaga pendamping kegiatan UPSUS SIWAB

Write comment (0 Comments)

Pada daerah penghasil padi, sisa-sisa hasil panen berupa jerami padi sangat melimpah. Satu ha tanaman padi bisa menghasilkan 7 ton jerami padi. Jika satu ekor sapi mengkonsumsi jerami padi 30 kg jerami padi setiap hari, maka bisa digunakan untuk memberi makan sapi lebih dari 5 bulan. Secara tradisional petani di pedesaan memberikan jerami padi kepada ternaknya langsung dalam kondisi basah, sebagian dikeringkan dan ditumpuk untuk persediaan pakan pada waktu sulit mendapatkan pakan ternak. Padahal jerami padi mempunyai beberapa kelemahan yaitu rendah kecernaannya karena kandungan seratnya (lignin) tinggi dan rendah kandungan nilai gizinya (protein dan bahan organik lainnya). Untuk itu perlu adanya peningkatan kualitas jerami padi. Teknologi fermentasi telah banyak dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pakan, salah satunya fermentasi jerami padi

 Bahan-bahan:

  1. Jerami padi : 1000 kg
  2. Starter (misal strarbio) : 2,5 kg
  3. Pupuk urea : 5 kg
  4. Air : 200 liter
  5. Tempat menumpuk jerami fermentasi serta untuk menghindari hujan dan panas matahari.

Cara Pembuatan: 

  1. Jerami diangin-anginkan sehingga kadar air 40%
  2. Jerami ditumpuk dengan panjang 2,5 m , lebar 2,5 m dan ketebalan 25 cm.
  3. Di atas lapisan jerami disiram air yang telah dicampur urea sampai merata.
  4. Di atas lapisan jerami ditaburi starter hingga merata.
  5. Jerami ditumpuk kembali dengan ketebalan 25 cm diinjak-injak hingga padat.
  6. Diulangi penyiraman air yang telah dicampur dengan urea hingga merata
  7. Diulangi penaburan starter hingga merata.
  8. Demikian diulangi sampai tumpukan bisa mencapai 3 m.
  9. Setelah selesai bagian atas ditutupi daun-daun kering seperti daun pisang.
  10. Jerami padi dibiarkan minimal 3-4 minggu
  11. Jerami padi fermentasi (tape dami) siap diberikan kepada ternak.

Ciri Jerami Padi Fermentasi yang jadi

  1. Warna kuning agak kecoklatan (warna dasar jerami masih terlihat)
  2. Teksturnya lemas (tidak kaku)
  3. Tidak busuk
  4. Tidak berjamur
  5. Baunya agak harum

Cara Pemberian Pada Ternak

Setelah 3-4 minggu jerami padi siap diberikan kepada ternak, namun sebelumnya dikeringkan dan diangin-angainkan terlebih dahulu. Jika ternak tidak langsung mau makan, maka perlu penyesuaian sedikit demi sedikit. Untuk penyimpanan dengan waktu yang lama harus dikeringkan betul di bawah terik matahari. Jerami fermentasi kering bisa disimpan sampai 6 bulan.

 

Harwi Kusnadi, S.Pt

Write comment (0 Comments)

Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik. Kompos adalah bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk ) yang bekerja di dalamnya. Kotoran sapi merupakan salah satu bahan yang mempunyai potensi untuk dijadikan kompos. Kotoran sapi mengandung unsur hara antara lain nitrogen 0,33%, fosfor 0,11%, kalium 0,13%, kalsium 0,26%. Pupuk kompos merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N,P,K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Bahan :

  1. Kotoran sapi                 : 800 kg
  2. Sekam padi                  : 200 kg
  3. Molases                       : 2,5 liter
  4. Air                              : secukupnya
  5. Dekomposer (stardec)   : 2,5 kg

Alat yang diperlukan :

  1. Cangkul 2 buah dan sekop 2 buah untuk mengaduk bahan kompos dan melakukan pembalikan.
  2. Terpal untuk menutup adukan kompos
  3. Tempat teduh dari sinar matahari dan hujan untuk proses pembuatan kompos dibagi menjadi 4 bagian. Bagian I proses pengadukan, bagian II adukan umur 1 minggu, bagian III adukan umur 2 minggu dan bagian IV kompos sudah jadi dan pengemasan kompos.
  4. Gudang untuk menyimpan kompos.
  5. Ember 2 buah untuk mengambil air dan mengencerkan molases.
  6. Karung untuk mengemas kompos.

 

Cara pembuatan :

  1. Bahan kompos disiapkan kotoran sapi dibawah dan sekam padi di atasnya.
  2. Taburkan stardec secara merata.
  3. Molasses diencerkan dan disiramkan merata di atas adukan.
  4. Aduk bahan kompos sampai rata.
  5. Atur kelembaban 60% dengan ciri bila digenggam tidak pecah, tidak ada tetesan air dan tangan tidak basah.
  6. Apabila kurang lembab ditambah air secukupnya.
  7. Bahan yang sudah diaduk ditutup dengan terpal.
  8. Pembalikan dilakukan setiap minggu.
  9. Pengecekan proses pengomposan dilakukan pada hari ketiga, apabila terasa panas, maka terjadi proses pengomposan.
  10. Proses pengomposan berlangsung selama 3 minggu.
  11. Setelah 3 minggu kompos sudah jadi ditandai dengan bahan kompos tidak panas dan tidak bau.

 

Ciri-ciri kompos sudah jadi dan baik adalah:

  1. Warna kompos coklat kehitaman
  2. Aroma kompos yang baik tidak menyengat, tetapi mengeluarkan aroma seperti bau tanah atau bau humus hutan
  3. Apabila dipegang dan dikepal, kompos akan menggumpal. Apabila ditekan dengan lunak, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah.
Write comment (0 Comments)
     

Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang mengandung unsur haranya lebih cari satu unsur. Pupuk organik cair adalah zat penyubur tanaman yang berasal dari bahan-bahan organik dan berwujud cair yang merupakan salah satu hasil proses fermentasi. Urine sapi mengandung unsur hara antara lain natrium 1%, fosfor 0,5% dan kalium 0,5%. Kandungan unsur hara ini lebih tinggi dibandingkan korotannya. Disamping itu mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh

BAHAN:

  1. Urine sapi                  : 20 liter
  2. Molasses                   : 1 liter
  3. Empon-empon           : ½ kg
  4. Starter (stardec)         : 2 ons
  5. Bahan pestisida dabati        : 1 ons

PERALATAN

  1. Alat tumbuk
  2. Ember 2 buah
  3. Kain saring
  4. jerigen kapasitas minimal 35 liter
  5. botol trasparan
  6. selang plastik
  7. POC + pestisida nabati sudah jadi dengan ciri-ciri tidak ada lagi gelembung udara di botol transparan.

 CARA PEMBUATAN:

  1. Empon-empon ditumbuk.
  2. Bahan pestisida nabati ditumbuk halus.
  3. Dicampurkan dengan urin sapi dan diaduk.
  4. Disaring sebelum masuk jerigen.
  5. Tambahkan starter.
  6. Masukkan dalam jerigen dan didiamkan selama 3 minggu
  7. Jerigen dalam kondisi tertutup dan dihubungkan dengan botol tranparan dengan selang plastik untuk mengetahui gas yang dihasilkan

 CARA PENGGUNAAN:

Gunakan urine tersebut dengan kadar 10% (1 urine:10 air).

  1. Untuk seedtreatmen benih/biji direndam selama semalam
  2. Untuk bibit perendaman selama maksimal 10 menit
  3. Untuk pupuk cair yang diaplikasi lewat daun gunakan 1 liter urine per tangki

Manfaat pupuk organik cair :

  1. Untuk menyuburkan tanaman.
  2. Zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit,
  3. Sebagai Pupuk daun organik,
  4. Dengan dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat serangan thrip.
  5. Karena baunya yang khas urine ternak juga dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan

,

Write comment (0 Comments)