JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

infotek Perkebunan

Permasalahan kopi di tingkat petani di Provinsi Bengkulu tidak saja dalam hal jumlah, tetapi juga dalam hal mutu bubuk kopi yang relatif belum dapat bersaing. Saat ini, pengolahan kopi basah di tingkat petani di Provinsi Bengkulu masih sulit diterapkan karena alasan keamanan sehingga jumlah kopi masak atau petik merah sangat sedikit. Terkadang petani kopi menjual dalam bentuk buah kopi yang telah kering (kopi asalan), karena tidak adanya perbedaan harga yang signifikan di tingkat petani antara buah kopi yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Selain itu, petani belum termotivasi untuk melakukan panen petik merah karena belum yakin dengan melakukan panen kopi petik merah dapat meningkatkan kualitas bubuk kopi.

Rekomendasi kebijakan pengembangan kopi di Provinsi Bengkulu, antara lain (1) peningkatan peremajaan (grafting) dari 65% menjadi 82% melalui penyambungan, (2) peningkatan penggunaan klon unggul berkualitas dari 25% menjadi 69% melalui program bantuan bibit, (3) peningkatan kapasitas SDM petani melalui pelatihan dan intensitas penyuluhan dari 10% menjadi 48%, dan (4) penegakan regulasi panen petik merah yang diiringi dengan kelayakan harga dari 0% menjadi 14%. Untuk itu, BPTP Bengkulu melalui kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Tanaman – Ternak Spesifik Lokasi di Provinsi Bengkulu, ingin memotivasi petani untuk meningkatkan kualitas kopinya dengan melakukan panen petik merah. Mengapa harus panen petik merah? Biji kopi secara alami mengandung senyawa organik calon pembentuk citarasa dan aroma khas kopi (Kafein dan Caffeol). Pada kondisi yang benar-benar matang, senyawa tersebut berada dalam jumlah maksimum. Itu sebabnya kopi bubuk yang diolah dari kopi petik merah atau buah kopi masak optimum memiliki citarasa dan aroma yang lebih harum dibandingkan kopi hasil panen asalan (campuran).

Tahapan proses pengolahan kopi secara basah yang dapat diterapkan di tingkat petani, meliputi :

  1. Panen; Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Proses pengolahan kopi secara basah memerlukan buah kopi yang benar-benar matang (buah merah), sedangkan buah yang masih hijau, kuning, ataupun kering nantinya tidak dapat terkupas dengan alat pengupas kulit buah kopi (Pulper). Keunggulan panen petik merah antara lain kulit buah kopi mudah terkelupas karena kulit buah telah lunak, waktu pengeringan biji kopi menjadi lebih singkat karena tidak ada lagi kulit buah yang menempel pada biji kopi, dan biji kopi lebih bernas sehingga ukuran biji lebih besar.
  2. Sortasi Buah; bertujuan untuk memisahkan buah yang matang (merah) dari campuran buah hijau kuning dan buah yang cacat (hitam, pecah, berlubang dan terserang hama/penyakit). Hal yang harus dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau sak selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-fermentasi sehingga aroma dan citarasa biji kopi menjadi kurang baik dan berbau busuk.
  3. Pengupasan Kulit Buah; bertujuan untuk memudahkan pelepasan atau pembersihan lapisan lendir dari permukaan kulit tanduk. Keunggulan proses pengupasan kulit buah kopi menggunakan pulper adalah (1) hasil pengupasan baik dan bersih, (2) Perawatan mudah, murah, dan mudah dioperasikan, serta (3) konsumsi air dan energi penggerak rendah
  4. Fermentasi; bertujuan untuk menghilangkan lapisan lendir yang tersisa di permukaan kulit tanduk biji kopi setelah proses pengupasan. Pada kopi Arabika, fermentasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa pahit. Prinsip fermentasi adalah peruraian senyawa-senyawa yang terkandung di dalam lapisan lendir oleh mikroba alami dan dibantu dengan oksigen dari udara. Proses fermentasi dapat dilakukan secara basah dengan cara merendam biji kopi di dalam genangan air, dan secara kering (tanpa rendaman air).
  5. Pencucian Lendir Biji Kopi; bertujuan untuk melepas lapisan lendir dan membersihkan benda asing dipermukaan kulit tanduk. Lendir yang menyelimuti biji kopi merupakan salah satu lapisan yang dapat menghambat proses pengeringan.
  6. Pengeringan; bertujuan untuk menghilangkan sisa air pencucian yang menempel pada permukaan biji serta mengurangi kadar air biji kopi sehingga biji kopi dapat tahan lama dalam penyimpanan. Untuk menjamin kemantapan selama penyimpanan, kadar air maksimum biji kopi adalah 12%.
  7. Penggilingan Biji Kopi Kering; bertujuan untuk memisahkan kulit tanduk dari biji kopi kering. Penggilingan biji kopi di tingkat petani dilakukan menggunakan alat penggiling (Huller) yang biasa diterapkan pada pengolahan kopi secara kering.
  8. Sortasi Biji Kopi Kering; Proses sortasi biji kopi kering di tingkat petani dilaksanakan secara manual, yaitu memisahkan antara biji kopi utuh, pecah, cacat, dan kotoran-kotoran atau benda asing. Penggunaan mesin sortasi elektronik, menghasilkan proses sortasi yang lebih efisien dan murah dibandingkan dengan cara manual.

 

Praktek teknologi pengolahan kopi petik merah dipandu oleh Peneliti bidang Teknologi Pascapanen dari BPTP Bengkulu (Dr. Shannora Yuliasari, S.TP., MP) dan Bapak Jalil yang merupakan pengusaha kopi bubuk dari Desa Bukit Sari Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang. Teknologi yang disampaikan kepada petani adalah pengolahan kopi secara basah dengan menggunakan alat pengupas kulit buah kopi (pulper). Prinsip kerja mesin pulper adalah melepaskan exocarp dan mesocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan di dalam air mengalir. Mesin pengupas kulit buah kopi petik merah

Sebelum buah kopi petik merah dikupas menggunakan mesin pulper ini, buah kopi petik merah harus disortasi dengan cara merendam buah kopi dalam bak air. Buah kopi yang kering, berwarna hitam, dan tidak sehat akan terapung pada bagian permukaan air. Buah kopi tersebut dibuang. Buah kopi yang merah dan sehat selanjutnya dimasukkan ke dalam corong pengumpan mesin pulper. Biji kopi yang telah terkelupas kulitnya dan kulit buah kopi akan keluar melalui dua corong pengeluaran terpisah.

Setelah melalui proses pengupasan kuli buah, selanjutnya biji kopi direndam dalam bak berisi air. Proses ini disebut proses fermentasi. Fermentasi bertujuan untuk menghilangkan lapisan lendir yang tersisa di permukaan kulit tanduk biji kopi setelah proses pengupasan. Proses fermentasi berlangsung maksimum selama 2 hari. Setelah fermentasi selama 2 hari, biji kopi harus segera dicuci bersih dan dikeringkan/dijemur. Jika kondisi cuaca belum memungkinkan, biji kopi dicuci bersih dan direndam kembali dalam bak air bersih selama 2 hari lagi.

Proses selanjutnya adalah pencucian biji kopi. Biji kopi yang telah difermentasi selama 2 hari, selanjutnya dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan lendir yang masih menempel pada biji kopi. Setelah proses pencucian, biji kopi ditiriskan pada baskom keranjang, dan selanjutnya dihamparkan pada terpal jemur dan dijemur sampai kadar air biji kopi maksimum 12%. Untuk mencapai kadar air tersebut, proses pengeringan biji kopi secara alami biasanya membutuhkan waktu 3 hari dengan kondisi matahari bersinar terik.

Write comment (0 Comments)

Upaya Meningkatkan Produtivitas dan Mutu Buah Kopi Melalui Penyambungan, Pemupukan,dan Pemangkasan

 

LATAR BELAKANG

Masalah utama perkopian rakyat di Provinsi Bengkulu adalah rendahnya produksi dan mutu serta umur produktif yang pendek. Beberapa faktor penting yang kurang mendapat perhatian adalah penggunaan klon yang belum sesuai serta pemeliharaan yang tidak maksimal.  Maka perlu adanya inovasi pemeliharaan dan penggunaan klon unggul yang sesuai dengan kondisi setempat.  Saat ini petani belum banyak melakukan pemupukan tanaman karena keterbatasan modal dan kesulitan mendapatkan pupuk an organik/kimia.  Penggunaan bahan organik lokal yang cukup tersedia belum banyak dilakukan petani.  Untuk itu sangat dianjurkan penggunaan bahan organik lokal dalam budidaya tanaman kopi.  Penggunaan bahan organik disamping dapat mengembalikan hara di dalam tanah juga untuk efisiensi biaya usahatani kopi karena dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik.

Penyambungan

Penyambung tanaman kopi merupakan bagian dari kegiatan peremajaan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil.  Penyambungan harus menggunakan entres dari tanaman lain yang berproduksi tinggi atau dengan menggunakan klon  yang lebih ungul (tanaman berproduksi tinggi, berasal dari klon / varietas yang dianjurkan, menghasilkan buah yang berkualitas baik, tanaman tidak terserang hama dan penyakit)    Secara umum ada 2 cara penyambungan yaitu  :

a.  Top Ent

Penyambungan pada tunas yang tumbuh dari pohon tua yang telah dipotong(tunas dengan tunas). Cara ini dapat dilakukan pada tunas dari pokok pohon kopi tua.  Caranya : tunas dari pohon kopi yang sudah tua pada ketinggian sekitar 30-40 cm dari permukaan tanah dipotong. Tunas dipilih dengan ukuran diameter 1 cm. Tunas tersebut dipotong dan dapat disambung dengan entres yang sudah disiapkan.  Penyambungan dilakukan dengan membelah batang bawah berbentuk V dan pada belahan leher V tersebut dapat disambungkan dengan entres yang telah dipersiapkan setelah itu diikat dengan tali rapiah secukupnya dan dibungkus dengan kantong plastik lalu diikat kembali dengan tali plastik.  Setelah tunas entres sudah nampak tumbuh sampai hidup maka kantong plastik dan pembalut sambungan dapat di buka atau dilepas, sehingga tanaman atas dapat tumbuh dengan leluasa.

 b. Tag Ent

Penyambungan dengan cara langsung pada potongan pohon kopi tua. .  Caranya : pohon kopi tua dipotong setinggi + 1 s/d 1,25 M dari permukaan tanah kemudian pada potongan tersebut di belah pada bagian samping kulit pohon yang telah dipotong tersebut pada kulit pohon dapat diselipkan entres yang telah disiapkan setelah itu diikat dengan tali plastik (tali raffia) secukupnya kemudian ditutup dengan plastik yang besar disesuaikan dengan besarnya batang kopi yang telah disambung

Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman yang yang utama adalah pemupukan dan pemangkasan

1. Pemupukan

Pupuk sangat diperlukan agar ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman dapat selalu dipenuhi dengan tujuan antara lain meningkatkan produksi, meningkatkan mutu hasil dan mempertahankan stabilitas produksi.  Pemberian pupuk dianjurkan 2 kali dalam satu tahun yaitu pada waktu awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan disesuaikan dengan umur tanaman.  Dosis untuk setiap kali pemupukan adalah :

Tabel Dosis umun pupuk tanaman kopi.

 Umur Tanaman (tahun)

Dosis pupuk (gr/ph)

Urea

SP 36

KCl

Kiesetit

1

20

25

15

10

2

50

40

40

15

3

75

50

50

25

4

100

50

70

35

5-10

150

80

100

50

>10

200

100

125

70

Sumber : Puslit Kopi dan Kakao Jember.

2.  Pemangkasan

Pemangkasan bertujuan untuk :

  1. Memperoleh cabang baru dalam jumlah yang dlkehendaki
  2. Memudahkan memperoleh sinar matahari guna merangsang pembentukan bunga
  3. Membuang cabang tua yang tidak produktif
  4. Memperbaiki peredaran udara guna merangsang penyerbukan bunga
  5. Membuang cabang yang terserang hama/penyakit.

 a. Pemangkasan pemeliharaan :

bertujuan untuk mempertahankan kerangka tanaman yang sudah terbentuk baik, mengatur penyebaran daun produktif, membuang bagian tanaman yang tidak dikehendaki (seperi cabang sakit, patah dan tunas air). Selain itu pemangkasan pemeliharaan juga bertujuan untuk merangsang pembentukan daun baru, bunga dan buah.

b.  Pemangkasan produksi :

  • Pembuangan cabang-cabang balik yang tidak diperlukan yang tumbuh pada cabang primer.
  • Pemangkasan cabang tua yang tidak diperlukan.
  • Pemangkasan tunas-tunas dilakukan waktu masih kecil, dalam jangka waktu 2 - 4     minggu.
  • Pemangkasan cabang yang terserang hama / penyakit.
  • Pemangkasan ini akan memacu pertumbuhan bunga dan buah

 c.  Manfaat :

  • Bisa panen tiap bulan
  • Produksi meningkat
  • Mutu lebih baik
  • Umur Produktif lebih lama
  • Pemeliharaan lebih mudah

 

                                                                              (Afrizon, Siti Rosmanah dan Kusmea Dinata)

Write comment (0 Comments)

Teknologi Penyambungan Tanaman Kopi untuk Meningkatkan Produksi

 

Kebun Entres kopiKopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Bengkulu, pada tahun 2013, areal penanaman kopi di Provinsi Bengkulu seluas 97.149 ha dengan produktivitas 0,738 ton/ha (BPS Provinsi Bengkulu, 2013). Peningkatan produktivitas tanaman kopi juga dapat dilakukan dengan melakukan pemeliharaan tanaman secara optimal. Pada budidaya tanaman tanaman kopi, penggunaan bahan tanam yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan pertanaman. Selain ditentukan oleh faktor pengelolaan tanaman (pemeliharaan tanaman), penggunaaan bahan tanam yang berkualitas sangat menentukan tingkat produktivitas yang akan diperoleh.Penerapan Budidaya yang benar dan penyambungan menggunakan bahan klon unggul lokal selain dapat meningkatkan produksi dan mutu kopi juga meningkatkan umur produktif tanaman. Tujuan utama penggunaaan bahan tanam dengan teknik penyambungan adalah agar sifat klon diwariskan secara utuh kepada keturunannya. Dalam teknik penyambungan ada dua bagian tanaman yang disambung, yaitu bagian batang bawah dan bagian batang atas (entres) yang akan diharapkan hasilnya. Penyambungan tanaman kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penyambungan kopi cara tag Ent dan Top Ent.

1. Teknik penyambungan Top Ent

Penyambungan pada tunas dari pohon tua yang telah dipotong (tunas dengan tunas).   Cara ini dapat dilakukan pada tunas dari pokok pohon kopi tua.  Caranya : tunas dari pohon kopi yang sudah tua pada ketinggian sekitar 30-40 cm dari permukaan tanah dipotong. Tunas dipilih dengan ukuran diameter 1 cm. Tunas tersebut dipotong dan dapat disambung dengan entres yang sudah disiapkan.  Penyambungan dilakukan dengan membelah batang bawah berbentuk V dan pada belahan leher V tersebut dapat disambungkan dengan entres yang telah dipersiapkan setelah itu diikat dengan tali rapiah secukupnya dan dibungkus dengan kantong plastik lalu diikat kembali dengan tali plastik.  Setelah tunas entres sudah nampak tumbuh sampai hidup maka kantong plastik dan pembalut sambungan dapat di buka atau dilepas, sehingga tanaman atas dapat tumbuh dengan leluasa.

 

2. Teknik penyambungan Tag Ent

Penyambungan dengan cara langsung pada potongan pohon kopi tua.  Caranya : pohon kopi tua dipotong setinggi + 1 s/d 1,25 M dari permukaan tanah kemudian pada potongan tersebut di belah pada bagian samping kulit pohon yang telah dipotong tersebut pada kulit pohon dapat diselipkan entres yang telah disiapkan setelah itu diikat dengan tali plastik (tali raffia) secukupnya kemudian ditutup dengan plastik yang besar disesuaikan dengan besarnya batang kopi yang telah disambung

Write comment (0 Comments)