JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

infotek Tanaman Pangan

Teknologi budidaya yang belum optimal dan penurunan luas lahan pertanian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tanaman pangan di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan oleh Kementerian Pertanian Repubik Indonesia (Kementan RI) bekerjasama dengan seluruh UK/UPT lingkup pertanian untuk meningkatkan produksi padi, jagung, dan kedelai, salah satunya dengan mengoptimalkan penggunaan lahan melalui penerapan sistem tanam tumpangsari dengan populasi rapat.

Melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, sejak tahun 2018 ini Kementan RI menggerakkan tanam dengan sistem tumpangsari dengan 3 (tiga) kombinasi, yaitu (1) Padi gogo + Jagung, (2) Padi gogo + Kedelai, dan (3) Jagung + Kedelai. Pada ketiga kombinasi tersebut, inovasi teknologi yang diterapkan, antara lain jumlah populasi masing-masing komoditas, jarak tanam, waktu tanam, jumlah benih per lubang tanam dan perlakuan benih sebelum tanam.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Bengkulu turut mendukung gerakan tanam tumpangsari tersebut dengan melakukan kegiatan demplot budidaya tumpangsari dengan ketiga kombinasi pola tanam di Desa Pasar Pedati Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah melalui kegiatan Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai di Provinsi Bengkulu tahun 2018. Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat diperoleh informasi inovasi teknologi budidaya tumpangsari spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu.

Untuk Paket Teknologi Lengkap Unduh : DISINI

Write comment (0 Comments)

Pendahuluan

Pengomposan merupakan proses dekomposisi bahan organik yang berasal dari limbah pertanian. Proses pengomposan menghasilkan panas sehingga akan dihasilkan kompos yang bebas dari penyakit, biji-biji gulma, serta mengurangi bau dan lebih mudah diaplikasikan di lapangan. Selain itu dengan melakukan pengomposan maka akan meningkatkan ketersediaan hara.

Salah satu aktivator atau dekomposer yang dianjurkan untuk mempercepat waktu pengomposan  adalah jamur Trichoderma. Trichoderma mempunyai keunggulan selain sebagai dekomposer, juga bermanfaat  untuk  mengendalikan serangan jamur yang menyebabkan penyakit pada tanaman seperti busuk akar pada tanaman.

Bahan dan alat yang diperlukan

 3 karung kotoran ternak

1 karung sekam  atau kulit kopi atau limbah tanaman lainnya

3 kg dedak halus

1,5 kg kapur dolomit

1/4 kg starter Trichoderma

5 ember air kapasitas 10 liter

Cangkul/sekop

Plastik/terpal

Cara membuat:

  1. Siapkan bahan-bahan berupa kotoran ternak, sekam, dedak, starter/dekomposer Trichoderma, dan air.
  2. Campurkan kotoran ternak, sekam, dan dedak halus
  3. Bahan-bahan yang sudah dicampur diaduk merata dengan menggunakan cangkul/sekop
  4. Siapkan air untuk melarutkan biakan jamur Trichoderma dengan dosis 2 gr/liter air
  5. Larutan tadi kemudian disiramkan pada campuran bahan kompos, tambahkan air siraman agar bahan kompos menjadi lembab
  6. Buat tumpukan bahan kompos setinggi 1 meter, kemudian ditutup dengan plastik/terpal. Inkubasi (diperam) selama 3 minggu dan diaduk 3 hari sekali

Kompos matang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, berarti kompos belum siap digunakan. Penggunaan kompos yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman.

Untuk pembuatan kompos selanjutnya, kompos matang tersebut bisa disisakan sebagian, untuk dijadikan biang untuk pembuatan kompos selanjutnya asalkan disimpan ditempat yang  kering dan  teduh.

Penulis : Ir.Sri Suryani M.Rambe, M.Agr

Write comment (0 Comments)

Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting selain lahan, tenaga kerja dan modal. Pemupukan berimbang memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil tanaman. Anjuran (rekomendasi) pemupukan harus dibuat lebih rasional dan berimbang berdasarkan kemampuan tanah menyediakan hara dan kebutuhan tanaman akan unsur hara, sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk dan produksi tanpa merusak lingkungan akibat pemupukan yang berlebihan. Hara N, P, dan K merupakan hara esensial bagi tanaman dan sekaligus menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman. Peningkatan dosis pemupukan N di dalam tanah secara langsung dapat meningkatkan kadar protein, akan menyebabkan tanaman mudah rebah, peka terhadap serangan hama penyakit dan menurunnya kualitas produksi, pemupukan P yang dilakukan terus menerus tanpa menghiraukan kadar P tanah yang sudah jenuh dapat pula mengakibatkan menurunnya tanggap tanaman terhadap pemupukan P tanaman yang dipupuk P dan K saja tanpa disertai N, hanya mampu menaikkan produksi yang lebih rendah.

Pemupukan berimbang adalah penyediaan semua kebutuhan zat hara yang cukup sehingga tanaman mencapai hasil dan kualitas yang tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Oleh karena itu jenis dan dosis pupuk yang ditambahkan harus sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman. Dengan demikian jenis dan dosis pupuk yang diaplikasikan tidak dapat disamaratakan tetapi harus spesifik lokasi karena: a) setiap jenis tanah mempunyai kemampuan menyediakan karena sifat-sifat tanah yang berbeda anatar lain pH tanah, kadar bahan organik, sifat dan jenis mineral – mineral tanah, b) tiap jenis dan varientes tanaman memerlukan jumlah dan hara yang berbeda, banyaknya hara yang terangkut panenpun berbeda, dan c) tiap lokasi/unit usaha tani mempunyai sejarah pengelolaan yang berbeda baik dari segi pengelolaan hara, tanah dan airnya. Faktor-faktor seperti, pencucian, run off sangat mempengaruhi keseimbangan hara dalam tanah.

Pemupukan tanaman (padi), harus diberikan berimbang karena : a) untuk meningkatkan hasil dan kualitas beras, tanaman padi memerlukan zat hara dalam jumlah banyak diantaranya N (Nitrogen), P (Phospor), K (Kalsium) dan Sulfur (S) sebagai unsur hara makro dan unsur hara sekunder seperti kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) serta unsur Zn (Seng) dan (Cu) tembaga dan besi (Fe), b) agar pertumbuhan tanaman sehat dengan produktifitas dan kualitas beras yang tinggi, maka zat-zat hara tersebut cukup tersedia dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Apabila salah satu zat hara tersebut jumlahnya tidak cukup, maka hasil dan kualitas akan menurun. Oleh karena itu pemupukan harus dilakukan secara berimbang; baik jenis, dosis sesuai dengan kebutuhan tanaman dan jumlah zat-zat hara yang tersedia di dalam tanah (tingkat kesuburan tanah).

Pemupukan berimbang spesifik Lokasi merupakan pemupukan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah setempat. Denganmengetahuikebutuhan pemupukan tanaman setempat, petani dapat memupuk lebih efisien karenaan jenis dan dosis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah.Apabila tanah subur, dimana kadar Posphat dan Kaliumnya cukup tinggi maka sebenarnya cukup diberi pupuk nitrogen (N) pemberian pupuk P dan K sedikit saja, untuk mengganti hara P dan K yang diangkut pada waktu panen, yaitu 50 Kg SP-36 dan 50 kg KCI per ha. Jika pemberian pupuk P dan K tersebut berlebihan, maka sisanya tidak terpakai sebagian hilang bersama air irigasi atau air hujan dan ini merupakan pemborosan. Namun sebaiknya bila kondisi tanahnya kekurangan posphat dan kalium maka harus dipupuk lengkap NPK sesuai dosis anjuran.

Untuk mengetahui dosis pupuk yang harus diberikan, dilakukan pengujian  kesuburan tanah menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Pada pengukuran kandungan hara tanah khusunya unsur N, P, dan K, telah ditetapkan tingkat kesuburannya pada tiga tingkat yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Bila unsur hara hasil analisis menunjukkan data rendah, maka dosis pupuk yang diberikan pada taraf tinggi, bila hasil analisis menunjukkan data sedang, maka dosis pupuk yang diberikan pada taraf sedang, demikian pula bila hasil analisis menunjukkan data tinggi, maka dosis pupuk yang diberikan pada taraf rendah.

Berdasarkan ketentuan Cara mengukur tingkat kesuburan tanah menggunakan PUTS, tingkatan dosis pupuk untuk Urea, SP-36, dn KCl masing-masing :

  1. Urea terdiri dari :
  • 200 kg Urea bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan tinggi atau sangat tinggi.
  • 250 kg Urea bila analisis dilakukan pada tanah berliat.
  • 300 kg Urea bila analisis dilakukan pada tanah berpasir.
  1. SP-36 terdiri dari :
  • 50 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan tinggi
  • 75 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan sedang
  • 100 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan rendah
  1. KCl terdiri dari :
  • 50 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan tinggi
  • 50 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan sedang
  • 100 kg SP-36 bila hasil analisis menunjukkan tingkat kesuburan rendah

Tabel Rekomendasi pemupukan SP-36 tanaman padi sawah berdasarkan status hara P dalam tanah.

Status Hara P Tanah

Kadar P2O5 (Extrak HCl 25%) (mg/100 g tanah)

Rekomendasi Pupuk SP-36 (kg)

Rendah

<20

100

Sedang

20 – 40

75

Tinggi

>40

50

 

Tabel Rekomendasi pemupukan KCl tanaman padi sawah berdasarkan status hara K dalam tanah.

Status Hara k Tanah

Kadar K2O (Extrak HCl 25%) (mg/100 g tanah)

Rekomendasi Pupuk KCl (kg)

Rendah

<10

100

Sedang

10 – 20

50

Tinggi

>20

50

 

PUPUK MAJEMUK YANG MENGANDUNG UNSUR N, P, dan K

Pelaksanaan pemupukan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pupuk di pasaran. Pada saat pupuk tunggal tersedia dan pupuk majemuk N, P, dan K tersedia, maka penentuan pilihan pupuk sangat mudah dilaksanakan. Namun kenyataan di lapangan seringkali ketersediaan pupuk tertentu sering tidak tersedia, oleh karena itu perlu adanya kreasi untuk menentukkan pilihan jenis pupuk dengan kondisi menyesuaikan dengan ketersediaan pupuk di pasaran.

Dipasaran terdapat beberapa jenis pupuk majemuk N, P, dan K. Masing-masing pupuk memiliki kandungan unsur hara N, P, dan K yang berbeda. Oleh karena itu perlu penentuan jenis pupuk majemuk mana yang akan digunakan dengan perhitungan kandungan hara yang dikandung pupuk. Beberapa jenis pupuk dengan kandungan hara N, P, dan K yang berbeda seperti : a) NPK Phonska, b) NPK Mutiara, c) NPK Pelangi, dan d) NPK Kujang.

Tabel Pupuk Majemuk N, P, dan K dengan kandungan haranya.

Jenis Pupuk

Persentase Kandungan Unsur Hara (%)

N

P2O5

K2O

S

NPK Phonska

15

15

15

10

NPK Mutiara

16

16

16

-

NPK Pelangi

20

10

10

-

NPK Kujang

30

6

8

-

Sumber : Roland J. Buresh. IRRI Filifina; Suyamto dan Sarlan Abdulrachman. 2006, dan data yang diolahan

KONVERSI PUPUK TUNGGAL KE PUPUK MAJEMUK

Secara umum, rekomendasi pemupukan yang dikeluarkan selalu dalam bentuk pupuk tunggal. Sementara pemupukan yang akan dilakukan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pupuk di pasaran. Oleh karena itu bila yang tersedia hanya pupuk majemuk saja, atau walaupun pupuk tunggal maupun puk majemuk tersedia, pengguna dapat menentukan pilihan dengan perhitungan efisiensi dan murahnya biaya.

Sebagai contoh apabila hasil analisis menggunakan PUTS diketahui bahwa kandungan N tinggi, P2O5 rendah, dan K2O tinggi, maka rekomendasi pemupukan yang dianjurkan yaitu : Urea 200 kg, SP-36 100 kg, dan KCl 50 kg. Bila pupuk majemuk yang ingin digunakan berupa pupuk NPK Phonska, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghitung kandungan hara dari masing-masing pupuk tunggal hasil rekomendasi, selanjutnya dikonversi kedalam pupuk majemuk yang akan digunakan. Contoh perhitungannya adalah : Kandungan hara dari masing-masing pupuk tunggal yaitu : 200 kg Urea adalah 92 kg N, 100 kg SP-36 adalah 36 kg P2O5, dan 50 kg KCl adalah 30 kg K2O.

Selanjutnya dosis pupuk NPK Phonska yang dibutuhkan adalah untuk memenuhi kandungan hara terkecil dari pupuk tunggal yang digunakan yaitu K2O yang 30 kg. Untuk memenuhi unsur hara 30 kg K2O diperlukan 200 kg NPK Phonska. Selanjutnya kekuranngan N sebanyak 62 kg digunakan Urea sebanyak 134,8 kg dan kekurangan P2O5 sebanyak 6 kg digunakan pupuk SP-36 sebanyak 16,6 kg.

Apabila pupuk majemuk yang ingin digunakan NPK Pelangi, maka untuk memenuhi unsur hara 30 kg K2O diperlukan 300 kg NPK Pelangi. Selanjutnya kekuranngan N sebanyak 32 kg digunakan Urea sebanyak 69,5 kg dan kekurangan P2O5 sebanyak 6 kg digunakan pupuk SP-36 sebanyak 16,6 kg. Demikian juga dengan jenis pupuk majemuk lainnya.

Penggunaan pupuk majemuk NPK biasanya karena di pasaran sering tidak tersedianya pupuk KCl. Hal ini karena pupuk KCl merupakan pupuk impor, yang berbeda dengan pupuk Urea yang diproduksi di dalam negeri. Pemilihan pupuk tunggal maupun majemuk juga dapat dilakukan dengan pertimbangan ekonomis dan teknis bila pupuk tunggal maupun majemuk tersedia. Efisiensi ekonomis tercapai pada saat keuntungan maksimum dapat dicapai dari harga pupuk dipasaran, sedangkan efisiensi teknis dicapai pada saat kelangkaan pupuk tertentu. Konsep efisiensi tidak identik dengan pengurangan atau peniadaan pupuk, tetapi lebih mengarah pada pemberian pupuk yang tepat atau tidak berlebihan. Ketepatan pemupukan membutuhkan berbagai informasi yang akurat mengenai : kebutuhan hara hasil analisis tanah.

Efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk di lapangan ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya : pelaksanaan aplikasi pemupukan di lapangan yang tidak akurat, yaitu ketidaktepatan pemilihan jenis, dosis, cara dan waktu aplikasi pupuk, perhitungan kandungan hara pupuk, dan ketepatan waktu pengadaan pupuk, misalnya saja Jenis Pupuk. Seringkali penggunaan jenis pupuk tidak sesuai dengan yang direkomendasikan antara lain karena tidak tersedianya pupuk di pasaran dan keterlambatan penyediaan pupuk di sawah.

Write comment (0 Comments)

Sebagai bagian dari revitalisasi pembangunan pertanian, pemerintah telah bertekad untuk meningkatkan produktivitas kedelai nasional menuju swasembada 2015. Program ini harus di dukung oleh semua pihak yang terkait, dalam proses produksinya. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tingkat produksi nasional lebih ditentukan oleh areal tanam dari pada tingkat produktivitas. Namun demikian, peluang peningkatan produksi melalui perbaikan teknologi masih terbuka lebar, mengingat produktivitas pertanaman kedelai di tingkat petani masih rendah ( 1,3 t/ha ) dengan kisaran 0,6 – 2,0 t/ha, padahal teknologi produksi yang tersedia mampu menghasilkan 1,7 – 3,2 t/ha. Secara umum minat petani untuk mengembangkan kedelai masih rendah jika dibandingkan komoditas pangan lain seperti padi, jagung, dan ubi kayu, karena pendapatan yang diperoleh dari usahatani kedelai masih tergolong rendah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas perlu dilakukan terobosan dalam memproduksi kedelai yang mampu memberikan produktivitas tinggi dengan proses produksi yang efisien dan berkelanjutan. Guna mencapai hal tersebut, diperlukan rakitan teknologi spesifik lokasi dengan memperhatikan kesesuaian terhadap kondisi biofisik lahan, social ekonomi masyarakat, dan kelembagaan petani. Proses produksi yang demikian pada hakekatnya merupakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). PTT kedelai diterapkan di sentra-sentra produksi kedelai, baik di lahan sawah maupun di lahan kering.

Pemerintah berusaha mendongkrak produksi kedelai nasional melalui berbagai upaya diantaranya adalah meningkatkan luas tanam dan luas panen. Peluang peningkatan luas tanam dan luas panen kedelai akan menjadi lebih besar dengan memanfaatkan lahan perkebunan dan lahan kehutanan (Perhutani) yang tanamannya masih muda, serta tumpangsari dengan tanaman pangan lain seperti jagung dan ubi kayu. Pengembangan kedelai sebagai tanaman sela di bawah tegakan tanaman perkebunan, lingkungan agroforestri, atau tumpangsari dengan tanaman pangan lain merupakan alternatif andalan untuk meningkatkan produksi kedelai nasional yang masih sangat rendah.

Balitbangtan melalui Balitkabi pada bulan Desember tahun 2014 telah melepas dua varietas unggul baru kedelai toleran naungan (hingga 50%), sesuai untuk dikembangkan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan lingkungan agroforestri yang tanamannya masih muda (< 4 tahun), maupun tumpangsari dengan tanaman pangan lain. Kedua varietas unggul baru tersebut adalah Dena 1 dan Dena 2.

Penggunaan varietas merupakan salah satu komponen teknologi PTT kedelai. PTT Kedelai adalah suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi tanaman dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani.

Komponen Teknologi Introduksi :

Komponen Dasar

1. Varietas unggul, Varietas yang umum digunakan adalah sebagai berikut :

No

Varietas

Umur (hst)

Berat 100 biji (g)

Tinggi Tanaman (cm)

Daya Hasil (t/ha)

Tahun dilepas

1

Tanggamus

88

11

67

1,22

2001

2

Argomulyo

80-82

16

40

1,5-2

1998

3

Kaba

85

10,37

64

2,13

2001

4

Anjasmoro

82-92

14,8–15,3

64-68

2,03-2,05

2001

5

Burangrang

80-82

17

60-70

1,6-2,5

1999

6

Grobogan

78

18

50-60

2,77

2008

7

Sinabung

88

10,68

66

2,16

2001

8

Dena 1

78

11,07-16,06

59

1,69

2014

9

Dena 2

81

7,75-14,74

40

1,34

2014

 2. Benih Bermutu dan berlabel

  • Tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (>85%).
  • Pada umumnya benih bermutu diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi.
  • Benih bermutuakan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak Akan menghasilkan tanaman yang sehat, pertumbuhan lebih cepat dan seragam.

3. Pembuatan saluran drainase/irigasi

  • Saluran drainase setiap 3–5 m dengan kedalaman 25 – 30 cm dan lebar 30 cm, yang berfungsi untuk mengurangi kelebihan air sekaligus sebagai saluran irigasi pada saat tidak ada hujan.
  • Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup dan tidak menghendaki kelebihan air/tanah becek selama pertumbuhannya.
  • Saluran drainase diperlukan untuk mengalirkan air ke areal pertanaman guna menjaga kelembaban tanah optimal dan mengalirkan kelebihan air pada saat hujan.

 4. Pengaturan populasi tanaman

  • Populasi berkisar antara 350.000 -500.000 tanaman/ha
  • Kebutuhan benih 40-60 kg/ha, bergantung padaukuran biji.
  • Tanam dengan cara ditugal
  • Jarak tanam 40 cm antar baris dan 20 cm dalam barisan,
  • 2-3 biji per lubang.

 5. Pengendalian OPT dengan konsep PHT

  • Pengendalian OPT secara terpadu tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan produktivitas kedelai tetapi juga melestarikan lingkungan.
  • Tahapan pelaksanaan pengendalian hama terpadu sbb:
  1. Jenis penghitungan kepadatan Identifikasi dan populasi hama.
  2. Menentukan tingkat kerusakan tanaman akibat hama.
  3. Taktik dan teknik pengendalian: (1) Mengusahakan tanaman selalu sehat, (2) Pengendalian secara hayati, (3) Penggunaan varietas tahan, (4) Pengendalian secara fisik dan mekanis, (5) Penggunaan feromon, (7) Penggunaan pestisida kimia.
  4. Hama utama kedelai yang harus diwaspadai dan dikendalikan adalah: lalat bibit (Ophiomyiaphaseoli), penghisap polong (Riptortuslinearis), ulat grayak (Spodopteralitura), dan penggerek polong (Etiellazinckenella).
  • Tahapan pelaksanaan pengendalian gulma terpadu sbb:
  1. Identifikasi jenis gulma: rumput, teki, atau daun lebar.
  2. Menentukan tingkat kepadatan gulma.
  3. Taktik dan teknik pengendalian: (1) Cara mekanis, (2) Kultur teknis, (3) Kimiawi (Herbisida), (4) Terpadu, mengkombinasikan beberapa komponen pengendalian.
  4. Gulma yang tidak dikendalikan berpotensi menurunkan hasil kedelai hingga 70%.

 Komponen Pilihan :

1. PenyiapanLahan

  • Pengolahan tanah : Tanpa OlahTanah (TOT)
  • Jerami padi harus dipotong pendek.
  • Lahan disemprot dengan herbisida pra tumbuh.

2. Pemupukan sesuai kebutuhan

  • Dosis 50 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP-36, 75 kg/ha KCl dan 300 kg/ha kapur
  • Atau setara 200 kg/ha Phonska, 17 kg/ha SP-36, 25 kg/ha KCl, dan 300 kg/ha Kapur
  • Diberikan seluruhnya pada saat tanam atau diberikan 2 kali (saat tanam dan 2 MST).

3. Pemberian Pupuk Organik

  • Bahan organik, berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos merupakan unsure utama pupuk organik yang berbentuk padat atau cairan.
  • Kotoran sapi yang telah matang merupakan pupuk organik yang potensial untuk tanaman kedelai.

4. Pemberian Amelioran

  • pH 4,5-5,3 sebanyak 2 ton kapur/ha
  • pH 5,3-5,5 sebanyak 1 ton kapur/ha
  • pH 5,5-6,0 sebanyak 0,5 ton kapur/ha

5. Pengairan pada periode kritis

  • Fase pertumbuhan tanaman yang sangat peka terhadap kekurangan air adalah awal pertumbuhan vegetative yaitu pada 15–21 hari setelah tanam (hst), saat berbunga (25-35 hst), dan saat pengisian polong (55–70 hst).
  • Dengan demikian tanaman tersebut perlu diari apabila curah hujan tidak mencukupi.
  • Pada kondisi kelebihan air dan kekeringan, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.
  • Periode kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif).

6. Panen dan Pascapanen

  • Panen dilakukan jika tanaman sudah masak, atau 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning.
  • Brangkasan kedelai segera dihamparkan dan dijemur dengan ketebalan sekitar 25 cm, selama 2-3 hari (tegantung cuaca) menggunakan alas.
  • Pengeringan dilakukan hingga kadar air mencapai 14 %.
  • Hindari menumpuk brangkasan basah lebih dari 2 hari sebab akan menjadikan benih berjamur dan mutunya rendah.
  • Segera Biji dirontok setelah brangkasan kering, manual atau menggunakan thresher (perhatikan kecepatan silinder perontok dan kadar air biji).
  • Panen tepat waktu dan penggunaan alat-mesin untuk merontok biji akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
  • Pembersihan menggunakan tampi atau secara mekanis (blower). Untuk keperluan benih sortasi harus dilakukan untuk membuang biji tipe simpang.
Write comment (0 Comments)
Komoditas tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuh kebutuhan pangan. Di sisi lain, kita dihadapkan pada kondisi iklim yang tidak menentu, sehingga kita perlu bekerja lebih keras dalam memacu peningkatan dan kontinuitas produksi di tengah ancaman dampak perubahan iklim. Upaya peningkatan produksi memerlukan strategi yang cermat berdasarkan perubahan iklim. 
 
Penggunaan varietas dan pemupukan spesifik lokasi merupakan hal yang penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan. Pupuk merupakan faktor penting untuk memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Untuk meningkatkan produksi padi terutama padi unggul diperlukan pupuk anorganik yang sesuai dengan takaran, waktu dan cara aplikasinya.
 
Pemupukan nitrogen sebaiknya dilakukan dengan penggunaan bagan warna daun (BWD) demikian juga dengan pemupukan kalium dan phosphor sebaiknya dengan menggunakan rekomendasi pupuk hasil analisa laboratorium atau perangkat uji tanah sawah (PUTS). Jika pemupukan ketiga unsur tersebut belum dapat dilakukan baik dengan penggunaan BWD maupun dengan analisa tanah ataupun penggunaan PUTS maka rekomendasi pemupukan dapat mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No. 40/Permentan/OT.140/4/2007 dan rekomendasi pemupukan yang ada pada kalender tanam yang sifatnya spesifik lokasi. Rekomendasi pemupukan padi sawah disajikan pada tabel berikut: 
 
Rekomendasi pupuk pada lahan sawah Kabupaten Kepahiang
No
Kecamatan
Pupuk Tunggal (kg/ha)
Phonska 15-15-15 (kg/ha)
Urea
SP-36
KCl
NPK
Urea
1
Bermani ilir
250
75
50
225
175
2
Kaba wetan
250
75
50
225
175
3
Kepahiang
250
75
50
225
175
4
Merigi
250
75
50
225
175
5
Muara kemumu
250
75
50
225
175
6
Seberang musi
250
75
50
225
175
7
Tebat karai
250
75
50
225
175
8
Ujan mas
250
75
50
225
175

Sumber : Kalender Tanam dan hasil Litkajibangrap BPTP Bengkulu

 

Write comment (0 Comments)