JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
fShare
0

SobaTani pasti sudah tau tentang Kambing Boerka.
Sejak tahun 2004, Badan Litbang Pertanian @Agroinovasi Balitbangtan Kementan melalui Loka Penelitian Kambing Potong telah mengembangkan program pembentukan kambing unggul "Boerka" melalui pendekatan perkawinan silang guna memenuhi bibit kambing dengan kualitas yang bagus.

Kambing Boerka merupakan kambing hasil perkawinan silang (Cross Breeding) antara pejantan kambing Boer (tipe pedaging) dan induk kambing Kacang (tipe prolifik, beranak banyak). Kambing hasil silangan ini lebih unggul dibanding kambing lokal, yaitu pertumbuhannya cepat dan bobot tubuhnya lebih besar.

Kambing Boerka Unggul Tipe Pedaging memiliki warna bulu coklat atau hitam pada bagian kepala sampai leher dan warna dominan putih pada bagian badan sampai kaki. Keunggulan kambing ini yaitu rata-rata bobot lahir 2,8 kg, rata-rata bobot sapih 12 kg, bobot satu tahun bisa mencapai 35 kg. Tingkat pertumbuhan rata-rata anak kambing Boerka masa prasapih sebesar 118 g/hari, jauh lebih tinggi dibandingkan pada kambing Kacang sebesar 52-70 g/hari. Selain itu bobot hidup kambing Boerka jantan rata-rata lebih tinggi 36-45% dan pada kambing Boerka betina rata-rata lebih tinggi 26-40% jika dibandingkan dengan kambing Kacang. Pada umur 12 atau 18 bulan kambing Boerka jantan telah mampu mencapai bobot hidup antara 26-36 kg dan telah memenuhi persyaratan pasar ekspor.

Kerjasama pengembangan sudah banyak dilakukan, diantaranya dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di seluruh Indonesia, termasuk BPTP Balitbangtan Bengkulu. BPTP Balitbangtan Bengkulu memiliki display kambing boerka sebanyak 10 ekor (7 ekor betina dan 3 ekor jantan) yang terdiri dari induk dewasa 4 ekor, jantan dewasa 1 ekor, anak jantan 1 ekor, anak betina 2 ekor, prasapih jantan 1 ekor dan prasapih betina 1 ekor. Kambing tersebut diperoleh dari Loka Penelitian Kambing Potong pada tahun 2016. Hingga saat ini, pemeliharaannya terintegrasi dengan Taman Agroinovasi Mart (Tagrimart) BPTP Balitbangtan Bengkulu. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah mini, limbah tanaman sayuran dari tagrimart berupa limbah tanaman kangkung, kol, sawi, daun kol bunga, dan sisa daun kacang panjang.

Limbah ternak kambing berupa feses dan urin telah diolah menjadi kompos dan biourin yang diaplikasikan kembali ke tanaman yang ada di Tagrimart.