JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
fShare
0

Beberapa waktu lalu (04/10/2018), telah dilakukan pengamatan pertumbuhan tanaman kedelai berumur 28 hari setelah tanam (hst) dan 15 hst yang berada di lahan petani kooperator di Desa Kali dan Gardu Kec. Arma Jaya Kab. Bengkulu Utara.

Tanaman kedelai berumur 28 hst ini mulai menghijau di sela tanaman karet. Dengan sentuhan teknologi, lahan sela di perkebunan  karet yang awalnya “tertidur” ini menjadi lahan produktif  yang ditanamani kedelai melalui Kajian Teknologi Budidaya Kedelai pada Gawangan Tanaman Karet Belum Menghasilkan di Provinsi Bengkulu. Kegiatan ini merupakan Kerjasama Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) Tahun 2018 @Agrinovasi Balitbangtan Kementan yang dilaksanakan oleh @BPTP Balitbangtan Bengkulu.

Teknologi yang dikaji yaitu penggunaan benih unggul (Anjasmoro dan Dena 1), aplikasi pupuk berimbang berdasarkan perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan rekomendasi Kalender Tanam (KATAM), serta perlakuan olah tanah dengan olah tanah sempurna (OTS) dan tanpa olah tanah (TOT). Dena 1 merupakan salah satu varietas kedelai unggul tahan naungan dengan toleransi naungan hingga 50%, potensi hasil 2,9 ton/ha, rata-rata 1,7 ton/ha, umur panen 78 hari.

Pada tanaman kedelai umur 28 hst di Desa Kali Kec. Armajaya, tinggi tanaman rata-rata 12-22 cm dan terdapat gejala penyakit virus mosaik kedelai sebesar 5%. Pengamatan juga dilakukan pada tanaman kedelai berumur 15 hst di Desa Gardu Kec. Arma Jaya. Diperoleh rata-rata tinggi tanaman 7-15 cm dan terdapat gejala penyakit virus mosaik kedelai sebesar 3%.

Persentase tanaman yang terserang penyakit belum begitu banyak namun harus dikendalikan karena serangan penyakit ini bisa menurunkan produksi hingga 50% bahkan lebih jika tidak segera dikendalikan. Soybean mozaik virus (SMV) memiliki gejala permukaan daun tidak rata, mengecil dengan gambaran mosaik, menggulung ke dalam, tepi daun mengalami klorosis dan kadang-kadang tanaman menjadi kerdil. Gejala penyakit muncul pada awal pertumbuhan menunjukkan kecenderungan infeksi virus terbawa benih. Vektor virus ini yaitu Aphis glycine. Rekomendasi pengendalian vektor menggunakan pestisida sipermetrin, deltametrin dan permetrin.