JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
fShare
0

SobaTani pasti sudah pernah dengar apa itu UPSUS SIWAB? Upaya Khusus sapi indukan wajib bunting (UPSUS SIWAB) adalah program Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong. Program yang dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka).

Untuk mengevaluasi implementasi kegiatan UPSUS SIWAB, pada 26-27 September yang lalu bertempat di hotel Grand Inna Daira Palembang dilaksanakan Evaluasi Penanganan I Gangguan Reproduksi (Gangrep) & Sinkronisasi Berahi UPSUS SIWAB. Ada 2 materi yang disampaikan, yaitu (1) Evaluasi UPSUS SIWAB 2017 dan 2018 oleh Seknas UPSUS SIWAB Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dr. drh. Maidaswar) dan (2) Evaluasi Penanganan I Gangrep dan Sinkronisasi Berahi oleh Kepala Balai Veteriner Lampung (drh. Nasirudin).

Acara yang bertujuan untuk mengevaluasi penanganan gangrep dan sinkronisasi berahi yg dilaksanakan di 4 Provinsi ini diselenggarakan oleh Balai Veteriner Lampung dan dihadiri 100 orang peserta yang berasal dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), salah satunya BPTP Balitbangtan Bengkulu (diwakili oleh Wahyuni Amelia Wulandari, S.Pt, MP), Badan Karantina Pertanian, BPTU Sembawa, Dinas Instansi lingkup peternakan di Provinsi dan Kabupaten/Kota Wilayah Kerja Regional II (Lampung, Bengkulu, Sumsel, dan Babel). Turut hadir tim expert dokter hewan dari Fakultas Peternakan UGM.

Dari pertemuan tersebut diperoleh beberapa kesepakatan untuk UPSUS SIWAB Provinsi Bengkulu, antara lain;
Pertama, Penanganan gangrep dilaksanakan di 7 kabupaten/kota (Kab. Seluma, Bengkulu Utara, Muko-muko, Bengkulu Tengah, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Kota Bengkulu). Dari 6.845 ekor sapi yg diperiksa sebanyak 2.851 ekor normal, 2.582 ekor bunting dan 1.480 ekor mengalami gangrep. Penanganan sapi gangrep telah terealisasi sebanyak 1.422 ekor (96,2%). Perkembangan kasus gangrep paling banyak adalah sapi hipofungsi ovarium sebanyak 684 ekor.

Kedua, Kegiatan sinkronisasi berahi dilaksanakan di 3 kabupaten (Kab. Bengkulu Tengah, Seluma dan Mukomuko). Dari target sinkronisasi berahi sebanyak 225 ekor (75 ekor per kabupaten), telah terealisasi sebanyak 143 ekor (63,5%).

Ketiga, Evaluasi kegiatan gangrep dan sinkronisasi, antara lain; petugas mengalami kesulitan entry data ke isikhnas, adanya kesepakatan menggunakan root isikhnas untuk mengambil data penanganan gangrep, data yg muncul di isikhnas masih banyak yang double dan tidak sama dengan pelaporan manual, kesulitan mendownload data isikhnas, adanya serangan penyakit menular (jembrana), kekurangan SDM professional dalam penanganan gangrep, dan diperlukannya evaluasi pedoman penanganan gangrep.

Ke depan BPTP Balitbangtan Bengkulu akan terus mendampingi kegiatan UPSUS SIWAB kelompok tani ternak yang berada di bawah koordinasi BPTP. Dengan inovasi teknologi peternakan diharapkan dapat mengatasi permasalahan produksi dan meningkatkan produktivitas dan populasi sapi di Provinsi Bengkulu.